Dasar
Spot
Perdagangkan kripto dengan bebas
Perdagangan Margin
Perbesar keuntungan Anda dengan leverage
Konversi & Investasi Otomatis
0 Fees
Perdagangkan dalam ukuran berapa pun tanpa biaya dan tanpa slippage
ETF
Dapatkan eksposur ke posisi leverage dengan mudah
Perdagangan Pre-Market
Perdagangkan token baru sebelum listing
Futures
Akses ribuan kontrak perpetual
TradFi
Emas
Satu platform aset tradisional global
Opsi
Hot
Perdagangkan Opsi Vanilla ala Eropa
Akun Terpadu
Memaksimalkan efisiensi modal Anda
Perdagangan Demo
Pengantar tentang Perdagangan Futures
Bersiap untuk perdagangan futures Anda
Acara Futures
Gabung acara & dapatkan hadiah
Perdagangan Demo
Gunakan dana virtual untuk merasakan perdagangan bebas risiko
Peluncuran
CandyDrop
Koleksi permen untuk mendapatkan airdrop
Launchpool
Staking cepat, dapatkan token baru yang potensial
HODLer Airdrop
Pegang GT dan dapatkan airdrop besar secara gratis
Launchpad
Jadi yang pertama untuk proyek token besar berikutnya
Poin Alpha
Perdagangkan aset on-chain, raih airdrop
Poin Futures
Dapatkan poin futures dan klaim hadiah airdrop
Investasi
Simple Earn
Dapatkan bunga dengan token yang menganggur
Investasi Otomatis
Investasi otomatis secara teratur
Investasi Ganda
Keuntungan dari volatilitas pasar
Soft Staking
Dapatkan hadiah dengan staking fleksibel
Pinjaman Kripto
0 Fees
Menjaminkan satu kripto untuk meminjam kripto lainnya
Pusat Peminjaman
Hub Peminjaman Terpadu
Kevin O'Leary: Mengapa Infrastruktur Cryptocurrency Lebih Penting Daripada Token (dan Risiko Shutdown Bagi Sebagian Besar Proyek)
Investor terkemuka dari Shark Tank, Kevin O’Leary, kini mengalihkan fokusnya dari spekulasi token menuju infrastruktur yang sesungguhnya—sebuah strategi yang mencerminkan perubahan mendalam dalam cara institusi finansial memandang cryptocurrency. Dengan mengakuisisi 26.000 hektar lahan di berbagai lokasi strategis, O’Leary menempatkan taruhan masif pada thesis bahwa kekuatan sejati dalam ekosistem crypto terletak bukan pada token itu sendiri, melainkan pada fondasi fisik yang memungkinkan industri beroperasi.
Pergeseran ini membawa implikasi signifikan: mayoritas dari ribuan proyek cryptocurrency yang ada menghadapi risiko shutdown atau kegagalan fundamental, sementara hanya dua aset—Bitcoin dan Ethereum—yang terus menarik perhatian modal institusional yang serius.
Tanah dan Listrik: Aset yang Lebih Berharga Daripada Cryptocurrency Itu Sendiri
Strategi O’Leary mengungkap sebuah paradoks dalam industri crypto yang masih banyak disalahpahami. Melalui wawancara dengan CoinDesk, ia menjelaskan bahwa penguasaan atas lahan dan sumber energi—bukan token digital—merupakan bottleneck sesungguhnya dalam pengembangan infrastruktur crypto dan AI.
Dari 26.000 hektar yang dikuasainya, 13.000 hektar berada di Alberta, Kanada (yang sebelumnya telah diumumkan), sementara 13.000 hektar lainnya masih dalam tahap perizinan di lokasi yang belum diungkapkan. Semua lahan ini sedang dipersiapkan dengan utilitas penuh—termasuk akses listrik, air, fiber optik, dan hak udara—khusus untuk mendukung operasi yang membutuhkan energi tinggi.
Strategi O’Leary tidak bermaksud untuk membangun pusat data atau operasi penambangan sendiri. Sebaliknya, modelnya adalah mempersiapkan lahan dengan semua izin yang diperlukan, kemudian menyewakannya kepada perusahaan yang membutuhkan. “Pekerjaan saya adalah memastikan semua persyaratan regulasi terpenuhi dan infrastruktur siap digunakan,” jelasnya. Kontrak listrik di beberapa lokasi, menurut O’Leary, bahkan bernilai lebih tinggi daripada Bitcoin itu sendiri—terutama yang menawarkan harga di bawah enam sen per kilowatt-jam, tingkat yang sangat kompetitif di industri ini.
Penilaiannya terhadap nilai relatif infrastruktur versus token mencerminkan pandangan yang semakin berkembang di kalangan investor institusional: pada era sebelumnya, spekulasi token mungkin menguntungkan, namun pada fase maturity crypto, kontrol atas sumber daya fisik menjadi faktor dominan.
Proyek Pusat Data: Masalah Overcapacity dan Shutdown yang Akan Datang
O’Leary membuat pernyataan yang cukup mencolok mengenai masa depan ekspansi infrastruktur crypto dan AI. Ia memperkirakan bahwa sekitar 50% dari semua pusat data baru yang telah diumumkan dalam tiga tahun terakhir tidak akan pernah benar-benar dibangun. Analisisnya menunjukkan adanya “perebutan lahan tanpa pemahaman mendalam tentang persyaratan teknis dan regulasi”—sebuah kondisi yang pada akhirnya akan mengakibatkan shutdown atau pembatalan proyek-proyek tersebut.
Perkiraan ini sejalan dengan dinamika pasar yang sering terjadi: perusahaan mengumumkan ekspansi besar-besaran untuk kepentingan PR dan valuasi, namun ketika berhadapan dengan tantangan perizinan, biaya energi, atau kontrak daya jangka panjang, mereka terpaksa membatalkan rencana. Kegagalan ini tidak hanya mempengaruhi operasional, tetapi juga investor yang telah berkomitmen pada proyek-proyek ini.
Data menunjukkan bahwa lahan dan kontrak daya adalah pembatas nyata (hard constraints) yang tidak dapat diselesaikan dengan teknologi atau modal saja. Perusahaan yang gagal mengamankan keduanya akan mengalami shutdown atau transformasi bisnis yang signifikan.
Hanya Bitcoin dan Ethereum yang Penting bagi Institusi
Sementara crypto menciptakan ribuan token baru setiap tahunnya, O’Leary menyatakan dengan tegas bahwa modal institusional hanya tertarik pada dua aset: Bitcoin dan Ethereum. Pandangannya didukung oleh data konkret dari Charles Schwab yang menunjukkan bahwa hampir 80% dari estimasi nilai pasar crypto senilai $3,2 triliun terikat pada kedua blockchain terbesar ini. Sisanya, sekitar $600-700 miliar, tersebar di antara ribuan proyek altcoin yang bersaing untuk perhatian.
Fakta yang lebih mencemaskan: mayoritas dari token-token alternatif ini telah mengalami penurunan harga sebesar 60-90% dari puncaknya dan, menurut O’Leary, tidak akan pernah kembali ke level sebelumnya. Dengan demikian, bagi investor yang berinvestasi di luar Bitcoin dan Ethereum, prospek shutdown atau kegagalan fundamental merupakan risiko sistemik yang serius.
Data volatilitas menunjukkan bahwa untuk menangkap 97,2% dari total volatilitas pasar crypto sejak awal, seorang investor hanya perlu memiliki posisi dalam Bitcoin dan Ethereum saja. Ini menerangkan mengapa institusi finansial besar tidak tertarik pada token-token kecil—return risk profile mereka tidak masuk akal dalam konteks alokasi aset institusional.
ETF crypto yang baru-baru ini diluncurkan, meskipun membawa beberapa modal retail, praktis tidak signifikan dari perspektif institusional. “Dalam dunia manajemen aset profesional, ETF crypto masih terlalu kecil untuk dipertimbangkan secara serius,” ujar O’Leary, mencerminkan perspektif yang sering didengar di Wall Street.
Regulasi: Kunci Adopsi Institusional dan Pencegahan Shutdown Massal
Menjawab pertanyaan tentang apa yang akan mendorong alokasi institusional lebih jauh ke dalam cryptocurrency, O’Leary menunjuk pada satu faktor krusial: regulasi yang jelas dan kondusif. Khususnya, ia menyoroti RUU Struktur Pasar Crypto yang sedang dibahas di Senat AS.
Meskipun secara keseluruhan O’Leary mendukung kerangka regulasi baru ini, ia mengkritik salah satu klausul spesifik: larangan terhadap yield pada akun stablecoin. Pembatasan ini, menurutnya, menciptakan kondisi bermain yang tidak seimbang, memberikan keuntungan kompetitif kepada bank tradisional dibandingkan platform crypto.
Coinbase, sebagai contoh, telah melaporkan pendapatan $355 juta hanya dari layanan stablecoin yield-nya pada Q3 2025. Circle (penerbit USDC) dan Coinbase telah mengadvokasi keras untuk mengizinkan yield pada stablecoin sebagai bagian dari regulasi baru. Akan tetapi, ketika klausul larangan tersebut dimasukkan dalam draf RUU, Coinbase pada akhir Januari mencabut dukungannya terhadap proposal tersebut.
“Sampai regulasi memungkinkan pemegang stablecoin untuk mendapatkan imbal hasil dari akun mereka, framework ini akan tetap terhalang,” demikian pernyataan O’Leary. Pandangannya mencerminkan konsensus di kalangan pemain crypto yang percaya bahwa tanpa kejelasan regulasi, adopsi institusional akan terhenti, dan dengan itu, risiko shutdown atau bank runs akan tetap tinggi.
Perusahaan crypto lainnya juga mengidentifikasi ketentuan tentang regulasi DeFi, kerangka sekuritas, dan pengawasan regulasi sebagai area perhatian tambahan. Namun, O’Leary tetap optimis bahwa RUU akan disempurnakan sebelum final passage, dan ketika itu terjadi, alokasi institusional besar-besaran ke dalam Bitcoin akan segera menyusul.
Kesimpulan: Infrastruktur Menang, Cryptocurrency Rata-rata Shutdown
Positioning O’Leary pada infrastruktur fisik daripada token mencerminkan tahapan pematangan dalam industri cryptocurrency. Sementara era boom coin baru dan ICO menciptakan banyak pemenang jangka pendek, fase berikutnya didominasi oleh pemain yang mengontrol sumber daya yang langka: lahan, energi, dan akses bandwidth.
Investasi O’Leary—yang mencakup 19% dari portofolionya dalam aset dan infrastruktur terkait crypto—bukanlah spekulasi tetapi positioning strategis untuk dekade mendatang. Dengan mengakuisisi lahan dan infrastruktur utility-ready, ia menempatkan diri di posisi untuk menguntungkan dari pertumbuhan Bitcoin mining dan pusat data AI, terlepas dari volatilitas token.
Bagi investor retail, pesan O’Leary cukup jelas: mayoritas cryptocurrency lainnya kemungkinan akan menghadapi shutdown atau relevansi menurun, sementara Bitcoin dan Ethereum akan terus berkembang didukung oleh modal institusional. Dengan BTC pada $79,040 dan ETH pada $2,430 (per Februari 2026), kedua aset ini terus menunjukkan dominansi pasar yang tidak tergoyahkan. Adapun regulasi AS yang sedang berkembang akan menjadi penentupenting apakah momentum ini berlanjut atau stagnan dalam jangka menengah.