Dasar
Spot
Perdagangkan kripto dengan bebas
Perdagangan Margin
Perbesar keuntungan Anda dengan leverage
Konversi & Investasi Otomatis
0 Fees
Perdagangkan dalam ukuran berapa pun tanpa biaya dan tanpa slippage
ETF
Dapatkan eksposur ke posisi leverage dengan mudah
Perdagangan Pre-Market
Perdagangkan token baru sebelum listing
Futures
Akses ribuan kontrak perpetual
TradFi
Emas
Satu platform aset tradisional global
Opsi
Hot
Perdagangkan Opsi Vanilla ala Eropa
Akun Terpadu
Memaksimalkan efisiensi modal Anda
Perdagangan Demo
Pengantar tentang Perdagangan Futures
Bersiap untuk perdagangan futures Anda
Acara Futures
Gabung acara & dapatkan hadiah
Perdagangan Demo
Gunakan dana virtual untuk merasakan perdagangan bebas risiko
Peluncuran
CandyDrop
Koleksi permen untuk mendapatkan airdrop
Launchpool
Staking cepat, dapatkan token baru yang potensial
HODLer Airdrop
Pegang GT dan dapatkan airdrop besar secara gratis
Launchpad
Jadi yang pertama untuk proyek token besar berikutnya
Poin Alpha
Perdagangkan aset on-chain, raih airdrop
Poin Futures
Dapatkan poin futures dan klaim hadiah airdrop
Investasi
Simple Earn
Dapatkan bunga dengan token yang menganggur
Investasi Otomatis
Investasi otomatis secara teratur
Investasi Ganda
Keuntungan dari volatilitas pasar
Soft Staking
Dapatkan hadiah dengan staking fleksibel
Pinjaman Kripto
0 Fees
Menjaminkan satu kripto untuk meminjam kripto lainnya
Pusat Peminjaman
Hub Peminjaman Terpadu
Gugatan $5 Billion Trump terhadap JPMorgan tentang Penghentian Layanan Menandai Eskalasi dalam Perselisihan Akses Perbankan
Pada awal 2025, mantan Presiden AS Donald Trump meningkatkan keluhan debanking-nya dengan mengajukan gugatan federal terhadap JPMorgan di pengadilan negara bagian Miami-Dade County. Pengaduan tersebut menuduh bahwa raksasa perbankan tersebut menghentikan akun pribadi dan bisnisnya “tanpa peringatan atau provokasi,” dan menuntut ganti rugi sebesar $5 miliar dari institusi dan CEO-nya, Jamie Dimon. Menurut laporan Bloomberg, Trump menuduh JPMorgan melakukan fitnah perdagangan dan pelanggaran terhadap perjanjian tersirat tentang itikad baik, sekaligus menuduh Dimon secara pribadi melanggar undang-undang praktik perdagangan menipu di Florida.
Gugatan dan Tanggapan JPMorgan
JPMorgan secara konsisten membantah bahwa keputusan debanking didorong oleh pertimbangan politik atau agama. Juru bicara bank tersebut menolak gugatan tersebut sebagai tidak berdasar, menyatakan bahwa “kami tidak menutup akun karena alasan politik atau agama.” Dimon sendiri menanggapi tuduhan serupa pada bulan Desember, dengan menyatakan bahwa “kami melakukan debanking terhadap orang yang Demokrat. Kami melakukan debanking terhadap orang yang Republik. Kami juga melakukan debanking terhadap orang dari berbagai agama. Tidak pernah karena alasan tersebut.” Pembelaan ini mencerminkan posisi bank bahwa penutupan akun mengikuti prosedur kepatuhan dan penilaian risiko yang sudah ditetapkan, bukan karena alasan ideologis.
Konteks Politik di Balik Klaim Trump
Argumen debanking Trump sangat dipengaruhi oleh klaim kontroversialnya tentang serangan Capitol 6 Januari 2021. Dalam posting media sosial dari pertengahan Januari 2025, dia menggambarkan insiden tersebut sebagai tindakan yang dibenarkan, mengutip klaimnya bahwa pemilihan presiden 2020 “curang”—sebuah klaim yang bertentangan dengan kekalahan 74 suara elektoralnya dari Presiden Joe Biden. Pernyataan ini menjadi bagian dari latar belakang pengajuan gugatan tersebut.
Debanking sebagai Fokus Kebijakan yang Semakin Meningkat
Isu debanking telah melampaui kasus individual Trump. Pada Agustus 2024, Trump menandatangani perintah eksekutif yang menargetkan “debanking yang dipolitisasi atau ilegal,” yang mengarahkan regulator AS untuk menyelidiki klaim dan mengembangkan langkah pencegahan. Anggota parlemen Partai Republik di Kongres juga mendorong solusi legislatif, berupaya memasukkan ketentuan debanking dalam RUU struktur pasar yang sedang berlangsung.
Gerakan ini mendapatkan momentum khusus selama 2024 ketika lebih dari 30 eksekutif teknologi dan cryptocurrency secara terbuka mengungkapkan klaim debanking terhadap berbagai institusi keuangan. Para pelaku industri menyebut istilah “Operasi Chokepoint 2.0” untuk menggambarkan apa yang mereka anggap sebagai upaya terkoordinasi oleh regulator pemerintah untuk membatasi akses perbankan bagi mereka yang terlibat dalam aset digital. Kerangka ini menunjukkan bahwa insiden debanking individual merupakan gejala dari pola kebijakan yang lebih luas, menempatkan gugatan Trump dalam debat yang lebih besar tentang akses keuangan dan overregulasi di sektor crypto dan fintech.