Apakah pasar salah paham? Penanda utama yang sebenarnya adalah Alan Greenspan:

robot
Pembuatan abstrak sedang berlangsung

Sebagai calon Ketua Federal Reserve yang diusulkan oleh Trump, mantan anggota dewan Federal Reserve Kevin Warsh sedang berusaha mereplikasi legenda kebijakan moneter Alan Greenspan di tahun 1990-an dengan bertaruh pada kemakmuran produktivitas yang dibawa oleh kecerdasan buatan (AI).

Menurut analis makro Claire Jones, logika inti Warsh adalah bahwa gelombang AI akan secara besar-besaran meningkatkan produktivitas, sehingga menciptakan ruang bagi Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga secara signifikan tanpa memicu inflasi.

Warsh percaya bahwa gelombang panas AI ini adalah “gelombang terbesar yang pernah dilihat oleh generasi ini, baik di masa lalu, sekarang, maupun di masa depan, dalam hal peningkatan produktivitas.” Pandangan ini didukung oleh pejabat pemerintah Trump seperti Menteri Keuangan Scott Bessent, yang sama-sama berharap melihat suku bunga turun dengan cepat. Bessent secara terbuka menyatakan bahwa saat ini sedang berada di awal kemakmuran produktivitas yang mirip dengan tahun 1990-an, dan ekonomi dapat berjalan “berdasarkan fondasi ini dalam lingkungan suku bunga rendah.”

Ide ini dipandang sebagai upaya mereplikasi legenda kebijakan moneter Greenspan di tahun 1990-an—ketika Greenspan mengandalkan intuisi dan data yang mendalam untuk menunda kenaikan suku bunga, yang akhirnya menghasilkan ekonomi yang kuat dan stabilitas harga. Jones berpendapat bahwa Warsh percaya bahwa dia juga dapat mengikuti logika ini, mengambil risiko terhadap ekspektasi hasil produktivitas, dan mendorong penurunan suku bunga.

Namun, dunia ekonomi tidak sepenuhnya yakin. Beberapa ekonom memperingatkan bahwa jika efek jangka pendek dari AI adalah lonjakan permintaan dan bukan ekspansi kapasitas pasokan secara bersamaan, maka penurunan suku bunga yang agresif bisa memicu inflasi sebelum manfaat produktivitas benar-benar terwujud. Jika Warsh ingin segera melaksanakan penurunan suku bunga setelah menjabat pada pertengahan Mei tahun ini, dia tidak hanya harus menghadapi jadwal politik yang ketat, tetapi juga harus menyajikan data yang meyakinkan seperti Greenspan dulu, untuk meyakinkan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC).

Mengulang Keajaiban Produktivitas Tahun 90-an

Warsh memandang ke pengalaman sejarah 30 tahun lalu. Dalam wawancara sebelumnya, dia menyatakan bahwa Greenspan saat itu berdasarkan bukti anekdot dan data non-tradisional memutuskan bahwa ekonomi AS tidak perlu menaikkan suku bunga, dan keputusan ini terbukti benar. Warsh percaya bahwa teknologi AI saat ini memberi Federal Reserve peluang untuk mengulangi “kebijaksanaan luar biasa” tersebut.

Posisi ini sangat sejalan dengan kebijakan pemerintah Trump. Bessent menyarankan para pengamat untuk membaca kembali biografi Greenspan, agar memahami bagaimana dia mampu menjalankan ekonomi dalam kondisi panas secara tepat. Bessent menunjukkan bahwa kemakmuran produktivitas saat ini masih dalam tahap awal, tetapi ini memberikan dasar teoretis untuk penyesuaian kebijakan.

Jika Warsh mendapatkan konfirmasi dari Senat, dia akan resmi mengambil alih Federal Reserve pada pertengahan Mei. Pada saat itu, dia akan menghadapi tekanan besar untuk memangkas suku bunga secara signifikan sebelum pemilihan paruh waktu November, dari kisaran saat ini 3,5%-3,75%. Sebaliknya, prediksi kebijakan Federal Reserve saat ini hanya memperkirakan satu kali penurunan suku bunga tahun ini, dengan suku bunga acuan tetap di atas 3,25%, jauh dari target 1% yang diharapkan Trump.

Kepercayaan dari Silicon Valley

Prediksi optimis Warsh tentang produktivitas AI sebagian besar berasal dari hubungan eratnya dengan Silicon Valley. Sebagai peneliti di Hoover Institution, Stanford University, dia telah mengamati perkembangan industri AI secara dekat. Warsh memprediksi bahwa gelombang panas AI akan dengan cepat mengubah bidang pekerjaan, dan perusahaan-perusahaan terkemuka akan mencapai “transformasi yang sulit dibayangkan” dalam satu tahun.

Mentornya, miliarder Stanley Druckenmiller, mengatakan kepada Financial Times bahwa selama mengelola kantor keluarga dan investasi ekuitas swasta (terutama di bidang teknologi), Warsh mengembangkan penilaian mendalam tentang dampak teknologi terhadap ekonomi. Druckenmiller percaya bahwa Warsh memiliki jaringan yang luas, tidak hanya memahami makro secara umum, tetapi juga mendalami kecepatan dan potensi disruptif AI, sehingga memiliki pemahaman yang lebih tajam daripada ekonom makro biasa.

Pejabat Federal Reserve saat ini juga terbuka terhadap potensi AI. Ketua Fed Jerome Powell dan anggota dewan Lisa Cook baru-baru ini mengakui bahwa AI akhirnya akan meningkatkan produktivitas dan mendorong kenaikan upah, meskipun dampaknya mungkin disertai gangguan awal.

Kekhawatiran Inflasi Demand-Pull

Meskipun visi ini indah, dunia ekonomi masih terbagi tentang apakah AI dapat memenuhi janji produktivitas dalam waktu dekat. Vincent Reinhart, mantan pejabat Fed dan kepala ekonom di Mellon Investment Management, menyatakan bahwa meskipun AI pasti meningkatkan ekspektasi output masa depan, saat ini “belum banyak berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas.”

Banyak ekonom khawatir bahwa gelombang panas AI saat ini lebih banyak mendorong permintaan daripada memperluas kapasitas pasokan ekonomi AS. Profesor Anil Kashyap dari Booth School of Business, University of Chicago, memperingatkan bahwa jika pengeluaran besar-besaran saat ini—seperti lonjakan investasi modal dan keuntungan pasar saham yang mendorong konsumsi—diimbangi dengan manfaat produktivitas yang tertunda, ini bisa menimbulkan tekanan inflasi.

James Knightley dari ING juga menyatakan bahwa belum ada bukti bahwa revolusi produktivitas akan terjadi dalam dua tahun ke depan, kecuali pasar tenaga kerja mengalami penderitaan nyata. Pemenang Nobel Daron Acemoglu bahkan menyatakan bahwa “baik dari sudut pandang teori ekonomi maupun data, tidak ada yang sepadan dengan optimisme teknologi.”

Tantangan Data: Pelajaran Sejati Greenspan

Warsh ingin mereplikasi keberhasilan Greenspan, tetapi tantangan terbesar adalah bagaimana meyakinkan pembuat kebijakan Federal Reserve saat ini. Menurut orang yang hadir di FOMC September 1996, Greenspan mampu meyakinkan Janet Yellen dan rekan-rekannya bukan hanya dengan intuisi, tetapi juga data yang solid.

Don Kohn, mantan Wakil Ketua Fed, menyatakan bahwa Greenspan adalah orang yang sangat memperhatikan data, dan intuisinya didukung oleh penemuan informasi mendalam yang tidak ditemukan orang lain—misalnya, saat itu, kenaikan upah, laba yang tinggi, dan inflasi yang rendah, semuanya menjadi teka-teki yang harus dipecahkan. Yellen juga mengingat bahwa Greenspan melakukan banyak riset dan menggunakan data ekonomi besar untuk mendukung pandangannya.

Ini berarti, jika Warsh ingin memasarkan teori “kemakmuran produktivitas AI” di rapat kebijakan mendatang, dia tidak bisa hanya mengandalkan cerita dari Silicon Valley, tetapi harus menunjukkan data ekonomi yang konkret, seperti yang dilakukan Greenspan, untuk membuktikan bahwa penurunan suku bunga tidak akan memicu inflasi kembali.

Peringatan Risiko dan Ketentuan Pengungkapan

        Pasar memiliki risiko, investasi harus dilakukan dengan hati-hati. Artikel ini tidak merupakan saran investasi pribadi, dan tidak mempertimbangkan tujuan investasi, kondisi keuangan, atau kebutuhan khusus pengguna. Pengguna harus menilai apakah pendapat, pandangan, atau kesimpulan dalam artikel ini sesuai dengan kondisi mereka. Investasi berdasarkan informasi ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengguna.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Sematkan