Dasar
Spot
Perdagangkan kripto dengan bebas
Perdagangan Margin
Perbesar keuntungan Anda dengan leverage
Konversi & Investasi Otomatis
0 Fees
Perdagangkan dalam ukuran berapa pun tanpa biaya dan tanpa slippage
ETF
Dapatkan eksposur ke posisi leverage dengan mudah
Perdagangan Pre-Market
Perdagangkan token baru sebelum listing
Futures
Akses ribuan kontrak perpetual
TradFi
Emas
Satu platform aset tradisional global
Opsi
Hot
Perdagangkan Opsi Vanilla ala Eropa
Akun Terpadu
Memaksimalkan efisiensi modal Anda
Perdagangan Demo
Pengantar tentang Perdagangan Futures
Bersiap untuk perdagangan futures Anda
Acara Futures
Gabung acara & dapatkan hadiah
Perdagangan Demo
Gunakan dana virtual untuk merasakan perdagangan bebas risiko
Peluncuran
CandyDrop
Koleksi permen untuk mendapatkan airdrop
Launchpool
Staking cepat, dapatkan token baru yang potensial
HODLer Airdrop
Pegang GT dan dapatkan airdrop besar secara gratis
Launchpad
Jadi yang pertama untuk proyek token besar berikutnya
Poin Alpha
Perdagangkan aset on-chain, raih airdrop
Poin Futures
Dapatkan poin futures dan klaim hadiah airdrop
Investasi
Simple Earn
Dapatkan bunga dengan token yang menganggur
Investasi Otomatis
Investasi otomatis secara teratur
Investasi Ganda
Keuntungan dari volatilitas pasar
Soft Staking
Dapatkan hadiah dengan staking fleksibel
Pinjaman Kripto
0 Fees
Menjaminkan satu kripto untuk meminjam kripto lainnya
Pusat Peminjaman
Hub Peminjaman Terpadu
Kevin Warsh adalah kandidat dari Ivy League yang dipilih Trump untuk memimpin the Federal Reserve
Perjalanan karier Kevin Warsh penuh dengan tikungan tak terduga. Beberapa tahun lalu, lulusan universitas Ivy League menghadapi penolakan untuk posisi di Bank of England, ketika tempatnya digantikan oleh Andrew Bailey. Tetapi cerita berakhir berbeda: kini Warsh mendapatkan nominasi untuk posisi yang bahkan lebih penting — sebagai kepala Federal Reserve AS setelah pengumuman Donald Trump.
Dari Penolakan di Bank of England ke Nominasi sebagai Kepala Fed
Pada tahun 2019, Dewan Gubernur Bank of England memilih Andrew Bailey sebagai pengganti Mark Carney, mengalahkan Kevin Warsh. Keputusan ini saat itu tampak seperti akhir dari awal karier internasionalnya yang cemerlang. Namun, itu bukan akhir, melainkan hanya jeda. Pada 2025-2026, Warsh mendapatkan pengakuan yang melampaui posisi di Inggris: Trump mengumumkan niatnya menjadikannya ketua Fed AS.
Kesempatan yang terlewat di London justru menjadi berkah. Setelah ditolak oleh Bank of England, Warsh beralih ke kegiatan akademik, bekerja di dewan direksi, dan menjadi konsultan informal dalam masalah ekonomi. Meski harus mengalami jeda ini, reputasinya sebagai finansialis berpengalaman tetap bersih. Bahkan, penolakan dari Inggris dianggap sebagai kesalahan politik di kalangan keuangan.
Pendidikan Ivy League dan Perjalanan ke Wall Street
Warsh berasal dari bagian utara New York dan mendapatkan pendidikan unggulan di universitas elit Amerika. Ia mempelajari ekonomi dan ilmu politik di Stanford, lalu belajar hukum di Harvard. Pendidikan dari Ivy League ini membuka pintu ke Wall Street, di mana ia memulai karier di Morgan Stanley.
Sebagai profesional muda, ia cepat menarik perhatian. Ketika George W. Bush membutuhkan penasihat ekonomi saat awal masa kepresidenannya, Warsh diundang ke Washington. Ia dibutuhkan oleh kekuasaan, dan kekuasaan itu membutuhkannya untuk membangun karier yang berpengaruh. Pada 2006, yang relatif muda ini menjadi anggota Dewan Gubernur Fed — pada usia 35 tahun, ia menjadi yang termuda dalam sejarah memegang posisi ini.
Peran saat Krisis Keuangan dan Kontroversi Pengunduran Diri
Krisis keuangan 2008-2009 menjadi ujian bagi Warsh. Saat itu, Ketua Fed Ben Bernanke sangat menghargai pemahamannya yang mendalam tentang kebijakan dan mekanisme pasar sekaligus. Warsh memegang posisi kunci dalam upaya menstabilkan sektor perbankan berkat koneksinya di Washington dan Wall Street.
Namun, masa jabatannya di Fed berakhir dengan catatan kontroversial. Warsh secara konsisten mendukung pelaksanaan program pelonggaran moneter lebih awal dari mayoritas koleganya. Hal ini memicu perdebatan sengit di dalam Dewan Gubernur. Tanpa mencapai kesepakatan, Warsh memutuskan mengundurkan diri pada 2011, jauh sebelum masa jabatannya berakhir.
Pengunduran dirinya yang didasarkan pada prinsip ini membangun citra Warsh sebagai pemikir independen. Dan citra ini menjadi alasan utama mengapa pasar keuangan optimistis terhadap nominasi dirinya sebagai ketua Fed.
Kebijakan Ketat terhadap Inflasi sebagai Jaminan Independen
Dalam setahun terakhir, Trump memberikan tekanan besar kepada Fed, terutama kepada Ketua Jerome Powell, agar lebih aktif menurunkan suku bunga. Hal ini menimbulkan kekhawatiran: apakah presiden akan menunjuk pemimpin yang patuh dan akan mengikuti perintah Gedung Putih?
Warsh menepis keraguan ini dengan posisinya terhadap inflasi. Ia secara konsisten menegaskan perlunya menjaga pertumbuhan harga tetap terkendali, bahkan jika itu berarti mempertahankan suku bunga tinggi. Ini menjadikannya independen dari tekanan politik Trump, meski mereka memiliki hubungan pribadi yang baik.
Ahli dari Capital Economics, Steven Braun, menyatakan bahwa keteguhan Warsh dalam memerangi inflasi harus menghilangkan kekhawatiran pasar. Meski kadang ia mendukung penurunan suku bunga lebih sering daripada Powell, pandangannya berbeda. Ia percaya bahwa faktor seperti perkembangan kecerdasan buatan dan deregulasi akan membantu menahan kenaikan harga dalam ekonomi.
Lebih dari itu, Warsh menentang pandangan tradisional bahwa ekonomi yang kuat dan tingkat pekerjaan tinggi secara otomatis menyebabkan inflasi. Ia menyebut pandangan ini usang dan melihat perubahan teknologi sebagai alat alami untuk mengendalikan kenaikan harga.
Ujian Utama: Akankah Warsh Menjaga Independensi Fed?
Ujian nyata bagi independensi Warsh adalah skenario di mana Gedung Putih mencoba memaksa Fed memperluas neraca dan campur tangan di pasar obligasi. Intervensi semacam ini akan membantu menurunkan biaya pinjaman pemerintah, tetapi bertentangan dengan prinsip independensi bank sentral.
Warsh berkali-kali menentang perluasan neraca Fed semacam itu. Ia secara tegas memperjuangkan prinsip otonomi operasional bank sentral — posisi yang juga dikritik oleh administrasi Trump. Dalam kesaksiannya di Komite House of Lords pada 2023, ia menegaskan bahwa independensi operasional sangat penting untuk kebijakan moneter yang efektif. Bank sentral harus bertindak tanpa bias, demi kepentingan masyarakat, bukan tujuan politik pemerintah.
Posisi ini sejalan dengan pandangan Ketua Fed saat ini, Jerome Powell, yang juga menghadapi kritik dari presiden tetapi tetap berpegang pada prinsip-prinsip tersebut.
Hubungan Pribadi dan Prospek Politik
Kehidupan pribadi Warsh menambah lapisan lain pada profilnya. Istrinya, Jane Lauder, adalah cucu dan pewaris perusahaan kosmetik Estée Lauder, dan tetap aktif terlibat dalam bisnis keluarga. Kekayaan keluarganya diperkirakan bernilai miliaran dolar.
Mertuanya, Ronald Lauder, adalah donor lama Partai Republik dan teman dekat Trump. Hubungan pribadi ini bisa menimbulkan konflik kepentingan, tetapi sejauh ini hubungan Warsh dan Trump tetap konstruktif.
Pertanyaan utama yang menggelitik pasar keuangan adalah: akankah Warsh mempertahankan independensinya jika di masa depan posisinya bertentangan dengan perintah presiden? Sejarah kariernya — pengunduran diri 2011 karena prinsip — memberi petunjuk positif. Namun, ujian nyata terhadap independensinya masih akan datang.